Produk sudah ada.
Kapasitas produksi ada.
Harga sudah dihitung.
Foto produk juga sudah bagus.
Kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih sulit:
“Buyer-nya cari di mana?”
Ini menjadi salah satu tantangan awal ketika bisnis mulai mempertimbangkan pasar ekspor.
Memproduksi barang dan menemukan orang yang bersedia membelinya adalah dua pekerjaan yang:
berbeda.
Terlebih ketika calon pembelinya berada di negara lain.
Anda belum mengenal mereka.
Mereka juga belum mengenal:
bisnis Anda.
Karena itu, memahami cara mencari buyer luar negeri bukan hanya soal mendapatkan daftar email perusahaan asing.
Yang dibutuhkan adalah proses untuk menemukan perusahaan yang:
relevan,
memiliki kebutuhan terhadap produk Anda,
dan secara realistis berpotensi menjadi:
pembeli.
Jangan Mulai dari Pertanyaan “Siapa yang Mau Beli Produk Saya?”
Pertanyaannya terlalu:
luas.
Misalnya Anda memproduksi:
kopi.
Siapa buyer-nya?
Coffee shop?
Roastery?
Distributor?
Supermarket?
Importer?
Hotel?
Food manufacturer?
Wholesaler?
Semua mungkin.
Tetapi cara mendekati masing-masing perusahaan akan:
berbeda.
Karena itu sebelum mencari buyer, tentukan dahulu:
siapa calon pembeli ideal Anda.
1. Tentukan Tipe Buyer yang Dicari
Dalam perdagangan internasional terdapat beberapa jenis calon pembeli.
Salah satunya:
importer.
Importer membeli produk dari luar negeri kemudian membawanya masuk ke negara mereka.
Ada juga:
distributor.
Distributor dapat membeli produk kemudian menyalurkannya ke retailer atau bisnis lain.
Kemudian:
wholesaler.
Mereka biasanya membeli dalam volume tertentu untuk dijual kembali.
Ada pula:
retailer,
manufacturer,
hospitality business,
hingga perusahaan yang membutuhkan produk sebagai bahan:
baku.
Produk yang sama bisa mempunyai beberapa tipe buyer.
Tetapi Anda tidak harus mengejar semuanya:
sekaligus.
Contoh Menentukan Target Buyer
Misalnya produk Anda adalah:
kerajinan rotan.
Target buyer potensial bisa berupa:
furniture importer,
home décor distributor,
interior supplier,
furniture retailer,
atau hospitality procurement company.
Sekarang pencarian menjadi jauh lebih:
spesifik.
Daripada mengetik:
“buyer rotan luar negeri”
Anda bisa mencari:
“rattan furniture importer Australia”
atau:
“home decor wholesaler Germany”.
Perbedaannya cukup:
besar.
2. Pilih Negara Target
Kesalahan umum berikutnya:
mencari buyer di seluruh dunia sekaligus.
Amerika.
Australia.
Jepang.
Jerman.
Dubai.
Korea.
Singapura.
Semuanya:
ditarget.
Padahal setiap pasar mempunyai karakteristik:
berbeda.
Mulai dari:
preferensi konsumen,
regulasi,
kompetitor,
logistik,
standar produk,
hingga harga.
Untuk tahap awal, lebih mudah memilih beberapa pasar yang paling:
relevan.
Bagaimana Memilih Negara?
Jangan hanya memilih berdasarkan:
“negara ini kaya.”
Lihat apakah produk tersebut memang mempunyai:
pasar.
Pertimbangkan antara lain:
permintaan produk,
nilai impor,
kompetisi,
jarak logistik,
regulasi,
dan kemampuan bisnis Anda memenuhi kebutuhan pasar tersebut.
Misalnya produk makanan mempunyai pertimbangan berbeda dibandingkan:
furniture.
Begitu juga tekstil berbeda dari:
produk digital.
3. Gunakan Data Perdagangan Sebelum Mencari Perusahaan
Sebelum mencari nama buyer satu per satu, cari tahu:
negara mana yang membeli produk tersebut.
Dalam perdagangan internasional, produk biasanya mempunyai klasifikasi:
HS Code.
Data perdagangan berdasarkan HS Code dapat membantu melihat:
negara pengimpor,
nilai perdagangan,
tren,
dan asal pemasok.
Dengan begitu pencarian buyer tidak sepenuhnya berdasarkan:
tebakan.
Misalnya ternyata produk Anda mempunyai permintaan besar di:
negara A,
B,
dan C.
Ketiga negara tersebut dapat menjadi titik awal untuk:
riset.
Jangan Hanya Mengejar Pasar Terbesar
Pasar terbesar memang:
menarik.
Tetapi biasanya kompetisinya juga:
tinggi.
Kadang pasar yang lebih kecil tetapi sedang berkembang justru lebih realistis untuk bisnis:
baru.
Pertimbangkan kombinasi antara:
ukuran pasar
dan
tingkat kesulitan masuk.
Tujuannya bukan menemukan negara dengan angka impor terbesar.
Tujuannya menemukan pasar yang cocok dengan kemampuan:
bisnis Anda.
4. Cari Importer Melalui Google
Google tetap menjadi salah satu alat paling sederhana untuk menemukan calon:
buyer ekspor.
Tetapi keyword pencariannya harus:
spesifik.
Jangan hanya:
“buyer coffee”.
Gunakan kombinasi:
produk + tipe perusahaan + negara.
Contohnya:
coffee importer Australia
coconut products distributor Japan
rattan furniture wholesaler USA
spices importer Netherlands
handicraft distributor Germany
Kemudian buka website perusahaan yang:
muncul.
Jangan langsung mengirim email.
Riset dulu.
Periksa Apakah Perusahaannya Benar-Benar Relevan
Misalnya Anda menjual:
coconut sugar.
Kemudian menemukan perusahaan food distributor.
Belum tentu cocok.
Lihat katalog mereka.
Apakah mereka menjual:
natural sweetener?
organic food?
Asian products?
food ingredients?
Kalau iya, relevansinya jauh lebih:
tinggi.
Kalau perusahaan tersebut hanya menjual frozen meat:
skip.
Lebih baik mempunyai 50 prospect relevan daripada 5.000 email:
acak.
5. Gunakan Direktori Bisnis
Business directory dapat membantu menemukan perusahaan berdasarkan:
industri
dan lokasi.
Direktori bisa berasal dari:
asosiasi industri,
chamber of commerce,
trade organization,
marketplace B2B,
atau direktori perusahaan lokal.
Namun jangan menganggap semua perusahaan di direktori otomatis:
buyer.
Direktori hanyalah tempat menemukan:
prospect.
Setelah menemukan nama perusahaan, tetap lakukan:
verifikasi.
Buka website.
Lihat produk.
Cari informasi bisnis.
Cari contact person.
Baru tentukan apakah layak:
dihubungi.
6. Cari Peserta Trade Show
Ini salah satu metode yang sering:
diremehkan.
Trade show mempertemukan perusahaan dalam satu:
industri.
Misalnya:
food,
furniture,
beauty,
fashion,
agriculture,
automotive,
atau hospitality.
Banyak event mempunyai daftar:
exhibitor.
Daftar tersebut bisa menjadi sumber prospect yang sangat:
berguna.
Kenapa?
Karena perusahaan yang mengikuti pameran industri sudah menunjukkan bahwa mereka aktif di:
market tersebut.
Jangan Hanya Cari Exhibitor
Perhatikan juga:
sponsor,
partner,
speaker,
buyer program,
dan participating company.
Kadang informasi tersebut membuka nama perusahaan yang sulit ditemukan melalui pencarian:
biasa.
Setelah mendapatkan nama perusahaan:
riset satu per satu.
Jangan langsung melakukan mass:
email.
7. Gunakan LinkedIn untuk Menemukan Orang yang Tepat
Anda sudah menemukan perusahaan.
Masalah berikutnya:
email siapa?
Mengirim penawaran ke:
info@company.com
bisa bekerja.
Tetapi kemungkinan email masuk ke inbox umum juga:
besar.
Lebih baik mencari orang yang mempunyai fungsi terkait:
purchasing,
procurement,
sourcing,
import,
category management,
atau business development.
Di sinilah LinkedIn dapat:
membantu.
Job Title yang Bisa Dicari
Tergantung industri, Anda dapat mencari posisi seperti:
Purchasing Manager
Procurement Manager
Sourcing Manager
Import Manager
Category Manager
Buyer
Merchandise Manager
Supply Chain Manager
Business Development Manager
Tidak semua posisi tersebut mempunyai kewenangan membeli produk Anda.
Tetapi setidaknya pencarian menjadi jauh lebih:
terarah.
Jangan Langsung Jualan di Pesan Pertama
Bayangkan membuka LinkedIn.
Ada pesan:
“HELLO SIR WE ARE BEST MANUFACTURER CHEAP PRICE PLEASE BUY.”
Kemungkinan responsnya:
abaikan.
Pesan pertama sebaiknya:
singkat,
jelas,
dan relevan.
Perkenalkan:
siapa Anda,
produk apa,
kenapa menghubungi mereka,
dan apa hubungan produk tersebut dengan bisnis:
mereka.
Jangan langsung mengirim katalog 80 halaman tanpa:
konteks.
8. Pelajari Website Kompetitor
Bukan untuk:
meniru.
Tetapi untuk memahami struktur:
pasar.
Misalnya kompetitor Indonesia sudah berhasil menjual produk serupa ke luar:
negeri.
Cari tahu:
pasar yang mereka targetkan,
sertifikasi yang ditampilkan,
tipe produk,
positioning,
dan channel distribusinya.
Kadang Anda juga dapat menemukan:
distributor,
retailer,
atau partner
yang menjual produk sejenis.
Ini memberikan gambaran mengenai tipe perusahaan yang mungkin menjadi target:
buyer.
9. Gunakan Marketplace B2B dengan Selektif
Marketplace B2B dapat mempertemukan supplier dan:
buyer.
Tetapi kualitas lead sangat:
bervariasi.
Ada inquiry serius.
Ada yang hanya:
membandingkan harga.
Ada yang tidak:
jelas.
Karena itu jangan menganggap setiap inquiry sebagai:
peluang besar.
Lakukan qualification.
Cari tahu:
nama perusahaan,
website,
negara,
volume,
produk yang dicari,
dan kebutuhan mereka.
Semakin besar transaksi, semakin penting proses:
verifikasi.
Buat Database Buyer
Jangan mencari buyer secara:
acak.
Hari ini Google.
Besok LinkedIn.
Lusa lupa perusahaan mana yang sudah:
dihubungi.
Buat spreadsheet sederhana.
Kolomnya bisa berisi:
Company Name
Country
Website
Business Type
Product Category
Contact Person
Job Title
Date Contacted
Status
Follow-up Date
Notes
Database sederhana membuat proses prospecting jauh lebih:
terorganisir.
Gunakan Status Prospect
Misalnya:
Research
Qualified
Contacted
Replied
Follow Up
Sample Requested
Negotiation
Not Interested
Closed
Dengan begitu Anda tahu posisi setiap:
prospect.
Kalau mempunyai 200 calon buyer, sistem seperti ini menjadi sangat:
berguna.
Jangan Menghubungi Buyer Sebelum Website Bisnis Siap
Bayangkan buyer menerima:
email Anda.
Mereka tertarik.
Kemudian membuka website.
Website:
error.
Produk tidak:
jelas.
Tidak ada alamat perusahaan.
Tidak ada informasi produksi.
Foto:
buram.
Buyer langsung kehilangan:
confidence.
Sebelum outreach, pastikan website minimal menjelaskan:
siapa perusahaan Anda,
produk,
kemampuan produksi,
lokasi,
contact information,
dan informasi pendukung lain yang memang relevan.
Buat Company Profile yang Ringkas
Buyer tidak selalu punya waktu membaca presentasi:
50 halaman.
Company profile awal cukup menjelaskan:
perusahaan,
produk utama,
kapasitas,
pasar,
sertifikasi jika ada,
dan contact information.
Gunakan foto yang benar-benar menunjukkan:
produk.
Kalau mempunyai:
factory,
workshop,
farm,
warehouse,
atau production facility,
tampilkan jika memang relevan dan:
nyata.
Product Catalog Harus Mudah Dipahami
Jangan membuat buyer harus menebak:
produk apa yang dijual.
Untuk setiap produk, informasi dapat mencakup:
nama produk,
varian,
material,
size,
specification,
packaging,
dan informasi lain sesuai industri.
Untuk beberapa produk, MOQ juga bisa:
relevan.
Tetapi jangan memasukkan klaim yang tidak dapat:
dibuktikan.
Ketahui MOQ Anda
MOQ berarti:
Minimum Order Quantity.
Buyer mungkin bertanya:
“What is your MOQ?”
Kalau jawabannya:
“Sebentar saya tanya dulu.”
Tidak selalu fatal.
Tetapi menunjukkan persiapan belum:
matang.
Sebelum outreach, pahami minimal:
MOQ,
production capacity,
lead time,
packaging options,
dan pricing structure.
Jangan Memberikan Harga Asal
Buyer:
“How much?”
Supplier:
“$2.”
Buyer:
“FOB?”
Supplier:
“FOB itu apa?”
Masalah.
Harga ekspor perlu mempunyai:
konteks.
Dalam perdagangan internasional terdapat Incoterms yang mengatur pembagian tanggung jawab tertentu antara seller dan:
buyer.
Jika belum memahami istilah seperti:
EXW,
FOB,
CIF,
atau lainnya,
pelajari sebelum membuat quotation internasional.
Untuk transaksi nyata, pastikan istilah perdagangan dan kontrak dipahami dengan benar oleh pihak yang:
terlibat.
Ketahui Kapasitas Produksi
Buyer mungkin meminta:
1.000 unit.
Bisa.
Kemudian:
10.000?
Bisa?
50.000?
Tidak tahu.
Jangan mengatakan:
“bisa”
hanya karena takut kehilangan buyer.
Kegagalan memenuhi pesanan bisa jauh lebih buruk daripada mengatakan kapasitas secara:
jujur.
Hitung kemampuan produksi:
per minggu
atau
per bulan.
Sisakan ruang untuk:
kendala produksi.
Lead Time Harus Realistis
Kalau produksi membutuhkan:
30 hari,
jangan menjanjikan:
14 hari.
Buyer internasional harus memperhitungkan:
produksi,
shipping,
customs,
dan distribusi.
Keterlambatan supplier dapat mengganggu seluruh:
supply chain.
Lebih baik memberikan estimasi realistis daripada memenangkan order dengan janji yang tidak bisa:
dipenuhi.
Siapkan Sample
Untuk banyak kategori produk, buyer ingin melihat:
sample.
Terutama jika keputusan bergantung pada:
kualitas,
material,
rasa,
warna,
finishing,
atau ukuran.
Tentukan kebijakan sample:
gratis atau berbayar,
ongkir siapa,
berapa jumlahnya,
dan berapa lama preparation.
Jangan baru memikirkan semua itu setelah buyer:
meminta.
Jangan Kirim Sample ke Semua Orang
Sample mempunyai:
biaya.
Produk.
Packaging.
International shipping.
Waktu.
Karena itu pastikan prospect cukup:
qualified.
Kalau seseorang menggunakan email gratis, tidak mempunyai perusahaan yang bisa diverifikasi, dan meminta 20 sample gratis:
hati-hati.
Lakukan verifikasi sebelum mengeluarkan:
biaya.
Cara Membuat Email Pertama
Email outreach tidak perlu seperti:
essay.
Buyer ingin memahami beberapa hal dengan cepat:
Siapa Anda?
Apa produk Anda?
Kenapa menghubungi mereka?
Apa yang membuat produk tersebut relevan?
Apa langkah berikutnya?
Subject juga harus:
jelas.
Contoh:
Indonesian Rattan Furniture Supplier – Product Introduction
Lebih informatif daripada:
BUSINESS OPPORTUNITY!!!
Personalisasi Email
Jangan:
“Dear Sir/Madam, we found your esteemed company on internet.”
Kalimat tersebut langsung terasa:
mass email.
Kalau sudah melakukan riset, gunakan:
nama.
Sebutkan alasan spesifik mengapa perusahaan tersebut:
relevan.
Misalnya:
“I noticed your company distributes natural home décor products across Australia.”
Sekarang penerima tahu Anda setidaknya telah melihat:
bisnis mereka.
Jangan Membuat Email Terlalu Panjang
Paragraf pertama:
perkenalan.
Paragraf kedua:
produk dan relevansi.
Paragraf ketiga:
next step.
Selesai.
Company profile atau katalog dapat dilampirkan atau diberikan melalui link sesuai:
kebutuhan.
Tujuan email pertama bukan menutup transaksi senilai:
$100.000.
Tujuannya mendapatkan:
respons.
Follow-Up Itu Normal
Tidak dibalas dua hari bukan berarti:
ditolak.
Buyer bisa:
sibuk,
travel,
meeting,
atau email Anda tenggelam.
Lakukan follow-up secara:
wajar.
Misalnya setelah beberapa hari kerja.
Pesannya tidak perlu:
“WHY NO RESPONSE?”
Cukup ingatkan secara profesional mengenai:
email sebelumnya.
Jangan Follow-Up Setiap Hari
Senin:
email.
Selasa:
follow-up.
Rabu:
“Any update?”
Kamis:
“Please reply.”
Jumat:
“Last reminder.”
Anda bukan terlihat:
persistent.
Anda terlihat:
mengganggu.
Berikan ruang.
Prospecting internasional membutuhkan:
kesabaran.
Buyer Tidak Membalas Bukan Selalu Karena Produk Jelek
Bisa jadi:
timing salah.
Mereka sudah mempunyai supplier.
Harga tidak cocok.
Tidak sedang mencari produk.
MOQ terlalu tinggi.
Produk belum sesuai pasar.
Atau memang email tidak:
dibaca.
Karena itu jangan menilai potensi ekspor hanya berdasarkan:
10 email.
Prospecting adalah permainan:
volume + relevance + consistency.
Tetapi Jangan Juga Spam 10.000 Email
Volume penting.
Namun kualitas target lebih:
penting.
Bayangkan dua pendekatan.
Pendekatan A
10.000 email acak.
Pendekatan B
200 perusahaan yang benar-benar menjual kategori produk Anda.
Untuk bisnis B2B, pendekatan kedua sering jauh lebih:
masuk akal.
Pelajari Bahasa Bisnis Dasar
Anda tidak harus mempunyai English seperti:
native speaker.
Yang lebih penting:
jelas.
Buyer harus memahami:
produk,
harga,
quantity,
lead time,
specification,
dan terms.
Gunakan kalimat:
sederhana.
Hindari mencoba terdengar terlalu formal sampai email menjadi:
aneh.
Jangan Berbohong tentang Pengalaman Ekspor
Kalau belum pernah ekspor:
jangan mengatakan sudah.
Anda bisa mengatakan bisnis sedang:
expanding internationally
jika memang demikian.
Kepercayaan sangat penting dalam transaksi:
B2B.
Satu informasi palsu yang ditemukan buyer bisa merusak seluruh:
negosiasi.
Verifikasi Calon Buyer
Ini bagian yang tidak boleh:
dilewatkan.
Jangan menganggap seseorang legitimate hanya karena menggunakan nama perusahaan:
besar.
Periksa:
domain email,
website,
alamat,
registrasi bisnis jika tersedia,
LinkedIn,
dan informasi perusahaan lainnya.
Waspadai perubahan instruksi pembayaran yang:
mencurigakan.
Untuk transaksi bernilai besar, gunakan prosedur verifikasi dan pembayaran yang sesuai dengan tingkat:
risiko.
Hati-Hati dengan Email Domain Mirip
Misalnya perusahaan asli menggunakan:
companyname.com
Tetapi seseorang menghubungi dari:
company-name-trading.com
Jangan langsung:
percaya.
Verifikasi melalui kanal resmi perusahaan.
Business email compromise dan impersonation dapat terjadi dalam transaksi:
internasional.
Jangan Mengirim Informasi Sensitif Sembarangan
Buyer mungkin membutuhkan dokumen tertentu dalam proses:
transaksi.
Tetapi jangan mengirim informasi sensitif yang tidak relevan hanya karena seseorang:
meminta.
Pastikan:
siapa penerima,
kenapa dibutuhkan,
dan bagaimana dokumen tersebut akan:
digunakan.
Apa yang Membuat Buyer Tertarik?
Tidak selalu:
harga termurah.
Buyer B2B juga mempertimbangkan:
quality consistency,
reliability,
capacity,
communication,
lead time,
documentation,
compliance,
dan kemampuan supplier menyelesaikan:
masalah.
Harga penting.
Tetapi supplier termurah yang selalu terlambat bisa menjadi supplier yang sangat:
mahal.
Cari Keunggulan Produk yang Nyata
Jangan hanya:
“High quality.”
Semua supplier mengatakan:
itu.
Lebih baik menjelaskan sesuatu yang:
konkret.
Misalnya:
material tertentu,
production method,
origin,
design capability,
customization,
capacity,
atau certification
jika memang benar.
Keunggulan harus dapat:
dibuktikan.
Jangan Membandingkan Diri dengan Semua Kompetitor
Supplier besar mungkin mampu:
MOQ sangat besar,
harga rendah,
dan produksi cepat.
Bisnis kecil tidak harus melawan pada:
semuanya.
Mungkin kekuatan Anda justru:
small batch,
customization,
handmade production,
specialty products,
atau komunikasi yang lebih fleksibel.
Cari posisi yang sesuai dengan:
kemampuan.
Buat Rutinitas Prospecting
Mencari buyer sekali selama:
dua hari
kemudian berhenti selama tiga bulan bukan:
strategi.
Buat target rutin.
Misalnya setiap minggu:
riset 20 perusahaan,
qualify 10,
hubungi 5–10,
follow-up prospect lama.
Angka tersebut hanya:
contoh.
Sesuaikan dengan kapasitas tim.
Yang penting adalah:
konsisten.
Contoh Workflow Mencari Buyer
Proses sederhananya:
Tahap 1 — Pilih Produk
Tentukan produk yang ingin:
diekspor.
Tahap 2 — Tentukan HS Code
Pastikan klasifikasi produk:
sesuai.
Tahap 3 — Pilih Market
Cari negara dengan potensi:
permintaan.
Tahap 4 — Tentukan Buyer Type
Importer?
Distributor?
Retailer?
Manufacturer?
Tahap 5 — Build Prospect List
Cari perusahaan melalui:
search engine,
directory,
trade show,
LinkedIn,
dan sumber lain.
Tahap 6 — Qualification
Pastikan perusahaan memang:
relevan.
Tahap 7 — Outreach
Hubungi contact person yang:
tepat.
Tahap 8 — Follow-Up
Catat semua komunikasi.
Tahap 9 — Qualification Lebih Dalam
Jika ada respons, pahami:
kebutuhan,
volume,
specification,
dan timeline.
Tahap 10 — Negotiation
Baru masuk ke:
sample,
quotation,
terms,
dan pembicaraan transaksi.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Eksportir Pemula
Beberapa pola muncul berulang:
mencari buyer sebelum produk siap,
mengirim email ke perusahaan acak,
tidak melakukan riset market,
tidak mengetahui MOQ,
tidak memahami kapasitas produksi,
memberikan harga tanpa terms jelas,
mengirim katalog terlalu besar,
tidak follow-up,
atau sebaliknya terlalu agresif melakukan:
follow-up.
Kesalahan lainnya adalah berharap:
instan.
Hari pertama cari buyer.
Hari kedua email.
Hari ketiga berharap:
purchase order.
B2B tidak selalu bekerja seperti:
itu.
Buyer Pertama Biasanya yang Paling Sulit
Sebelum mempunyai:
export history,
testimonial,
atau international client,
buyer harus mengambil risiko lebih besar untuk bekerja dengan:
Anda.
Karena itu proses mendapatkan buyer pertama bisa terasa:
lambat.
Setelah bisnis mempunyai track record, percakapan berikutnya dapat menjadi lebih:
mudah.
Tetapi jangan membuat fake testimonial atau klaim pengalaman yang tidak:
ada.
Bangun reputasi secara:
nyata.
Kesimpulan
Memahami cara mencari buyer luar negeri dimulai jauh sebelum mengirim email pertama.
Tentukan:
produk,
negara target,
tipe buyer,
dan positioning bisnis.
Kemudian gunakan berbagai sumber untuk menemukan prospect:
Google,
business directory,
trade show,
LinkedIn,
marketplace B2B,
dan data perdagangan.
Setelah menemukan calon buyer ekspor, jangan langsung:
jualan.
Riset bisnisnya.
Pastikan relevan.
Cari contact person yang tepat.
Kirim perkenalan yang singkat dan:
personal.
Catat hasilnya.
Follow-up secara profesional.
Dan ulangi proses tersebut secara:
konsisten.
Tujuannya bukan mendapatkan database dengan:
10.000 email.
Tujuannya mendapatkan daftar perusahaan yang ketika melihat produk Anda bisa mengatakan:
“Ini memang sesuatu yang kami jual.”
Dari sanalah percakapan bisnis yang sebenarnya:
dimulai.